JURNAL REFLEKSI MINGGU KE -14 Model 6: Reporting, responding, relating, reasoning, reconstructing (5R)
JURNAL MINGGU INI MENGGUNAKAN MODEL 6 : ( 5 R )
Oleh
:
SLAMET WIDODO,S.Pd
SD Negeri 1 Simo CGP Angkatan 4 Kab. Boyolali
Assalaamu’alaikum
wrwb
Puji
syukur, marilah kita panjatkan kepada Allah SWT Tuhan YME atas segala Nikmat
ynag diberikan kepada kita semua. Pada kesempatan kali ini admin menulis Jurnal
Refleksi Minggu ke -14 dengan merefleksikan aktifitas pembelajaran yang telah
dilalui menggunakan model 6 yaitu model 5R dengan deskrispi
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan (Reporting)
Sub
Pembelajaran 2.4: Eksplorasi Konsep (Forum Diskusi) Konsep Coaching, Komunikasi
yang Memberdayakan, dan Model Coaching
Proses
coaching berawal dari analisa dan eksplorasi teknik yang akan digunakan.
Selanjutnya memberikan waktu dan situasi dengan leluasa kepada coachee untuk
mengunkapkan masalahnya. Sangat penting juga untuk bisa membantu coachee untk
menentukan dan mengneal tujuan coaching.
Pertanyaan-pertanyaan
efektif diajukan kepada coachee untuk menggali permasalahan yang terjadi dan
coach mendengarkan apa yang menjadi keyakinan dan perhatiaan coachee sebagai
upaya untuk menciptakan komunikasi asertif dengan coachee. Coach menyimak
komunikasi coachee serta memahamkan coachee pentingnya menyelesaikan
masalahnya sendiri.Terus coach melaksanakan curah pendapat dan menuntun coachee
membuat tindakan serta alternative jalan yang mungkin dipraktekkan coachee dan
memberikan dorongan kepada coachee untuk memilih ide dan keputusan.
Dorongan coach menciptakan rencana penyelesaian dengan waktu yang
measurable, jelas dan spesipik disuaikan dengan kebutuhan. Coach
memberikan dorongan kepada coachee untuk mempertanggungjawabkan terhadap aksi
nyata yang akan diambil dan dijalankan dan capaian rencana secara spesipik
disesuaikan dengan jadwal yang telah dibuat.
Coach
meyakinkan coachee setiap masalah pasti terselesaikan dengan menciptakan
keakraban dan kenyamanan sehingga coachee dapat berbagi kisah yang sedang
dihadapi. Pendengar aktif haruslah dibangun oleh coach dengan merasakan apa
yang dirasa coachee dan memposisikan situasi saling menghargai dan
menghormati.
Kemampuan coachee dalam menyelesaikan dan mengambil keputusan haruslah dikembangkan oleh coach. Cobalah selalu melakukan feed back dan refleksi dari setiap proses coaching yang telah dilakukan.
Sekolah merupakan tempat strategis sebagai kondisi, situasi dan konteks local tempat mempraktikkan proses coaching. Coaching yang menggunakan model TIRTA dalam proses aplikasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi sekolah, guru dan peserta didik. Mereka adalah parter yang dapat membantu kita dalam memperaktikkan proses coaching model TIRTA. Setiap orang memiliki permasalah, cita-cita dan harapan yang berbeda-beda. Akan tetapi harus kepentingan muridlah yang menjadi focus utama. Harapan, tujuan dan problem yang dihadapi murid nantiya kan menjadi bahan untuk memperbaiki layanan yang akan diberikan dan memperbaiki kualitas murid selanjutnya.
Pembelajaran 3: Ruang Kolaborasi (sesi latihan) Pembentukan komunitas praktisi untuk melakukan praktik coaching
Di
aktifitas ruang kolaborasi sesi latihan saya melatih keterampilan coaching
dengan berbagai studi kasus dan membentuk komunitas praktisi untuk melakukan
praktek coaching model TIRTA. Sebelumnya saya diharuskan sudah
benar-benar memahami konsep coaching dalam konteks pendidikan baik melalui
pembelajaran mandiri dan diskusi.
Di sesi ini saya berkolaborasi dengan rekan calon guru penggerak lainnya untuk membentuk komunitas praktisi secara daring. Pada sesi ini, secara berkelompok, berlatih mempraktekkan proses coaching dengan tiga kasus yang akan diberikan dengan model TIRTA.
Pembelajaran
3: Ruang Kolaborasi (sesi praktek) Pembentukan Komunitas Praktisi untuk
melakukan praktik coaching
Hasil
persiapan di sesi sebelumnya kami mepraktikkan dan melatih keterampilan
coaching dengan berbagai studi kasus dan membentuk komunitas praktisi untuk
melakukan praktek coaching model TIRTA. Kami mempraktekkan kasus-kasus yang
telah disediakan secara tatap maya bersama fasilitator.
Kami
bersama kelompok telah berlatih mempraktekkan kasus-kasus tersebut sesuai
dengan langkah-langkah dalam praktik coaching model TIRTA. Pada sesi ini,
praktik yang dilakukan dalam kelompok,
2. Merespon (Responding)
Coach
memberikan waktu yang seluas-luasnya dan situasi yang nyaman bagi coachee untuk
mencurahkan permasalahan dan memberikan keyakinan kepada coachee bahwa setiap
permasalahan dapat diselesaikan dan membangun keakraban yang memberikan
kenyamanan kepada coachee untuk berbagi keluh kesah yang dihadapi dapat
menunjang keberhasilan praktek coaching kepada murid yang mengalami
permasalahan di kelas/sekolah.unuk latihan praktek coaching, kita dapat meminta bantuan dari
seluruh stakeholder sekolah. Praktek latihan dapat dimulai dari
teman-teman terdekat kita terlebih dahulu, meminta mereka untuk mengungkapkan
satu permasalahan dan senantiasa akhiri dengan meminta umpan balik dari mereka
terhadap latihan praktek coaching yang telah kita lakukan.
Selanjutnya
lakukan pada tataran yang lebih luas hingga pratek coaching dapat menjadi
sebuah kebijakan sekolah, sebagai salah satu sebuah bentuk pelayanan prima yang
diberikan oleh sekolah. Hal pertama yang harus dilakukan coach yaitu
membangun kepercayaan agar bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada coachee
sehingga praktik coaching bisa berjalan dengan lancar. Dengan demikian maka
coach bisa membantu coachee mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan
dan melejitkan potensi mereka.
3.
Mengaitkan (Relating)
Praktik
coaching ini memberikan pengetahuan, keterampilan, keyakinan dan informasi yang
sangat bermanfaat untuk saya sebagai guru dalam memberikan layanan kepada anak
didik atau dalam rangka memberikan tuntunan dan arahan supaya anak didik bisa hidup
sesuai dengan potensi, kelebihan dan memaksimalkannya untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri. Selainnya itu, kita pun sebagai coach rekan sejawat
dan bergerak serta menggerakkan sehingga dapat sinergis untuk menciptakan iklim
pendidikan yang dapat berpihak kepada anak didik.
4.
Menganalisis (Reasoning)
Proses
coaching harus terus dilakukan untuk menciptakan keterbiasaan dan meningkatkan
keterampilan kita dalam memberikan layanan sebagai coach. Setiap orang
khususnya anak didik memiliki keunikkan dan potensinya masing-masing yang harus
kita gali dan berdayakan sehingga dapat hidup secara maksimal sesuai dengan
kodrat alam dan zamannya masing-masing.
Modul
coaching ini menyadarkan saya khususnya untuk mampu memerankan diri sebagai
pemimpin pembelajaran yang bukan lagi saat nya menyodorkan solusi dan berbagi
pengalaman untuk menyelesaikan masalah setiap individu, akan tetapi mengarahkan
dan menuntun mereka untuk mampu menyelesaikan masalah dengan potensi yang
mereka miliki.
5. Merancang ulang (Reconstructing)
Proses
coaching akan terus berulang sesuai dengan perubahan peserta didik yang kita
hadapi. Kasus-kasus demi kasus akan terus akan bermunculan sesuai dengan
kondisi alam dan zaman yang terus berputar. Setiap potensi anak pun akan terus
bermunculan dan berbeda-beda tidak bisa disamakan. Guru hanya berperan sebagai
fasilitator yang mengoptimalkan mereka untuk mampu menyelesaikan masalah mereka
dengan potensi masing-masing. Makin sering kita melakukan proses coaching maka
makin terasah juga kemampuan kita untuk melakukan proses coaching.
Demikian
jurnal refleksi minggu ke 14 semoga bermanfaat. Salam dan bahagia
Wassalaamu’alaikum
wrwb.
Komentar