Modul 1.4 a. Budaya Positif
1.4.a.9.
Koneksi Antar Materi - Budaya Positif_@ Slamet Widodo,S.Pd
Salah
satu program Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan yang akan merubah konsep paradigma baru dalam dunia pendidikan dasar
dan menengah yaitu dapat menerapkan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara di
kelas / di sekolah.
Ki Hajar Dewantara dikenal sebagi
Pahlawan Pendidikan, pada perayaan hari Besar
Pendidikan Nasional, dengan slogan beliau yang terkenal yaitu " Ing Ngarso
Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani ", yang selama
ini hanya sebagai seremoni dan tidak
pernah dikaji tentang filosofi pemikiran- pemikiran beliau tentang pendidikan.
Salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara
dibidang pendidikan adalah bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat
yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi- tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan
kodrat yang ada pada anak, agar dapat diperbaiki lakunya ( bukan dasarnya )
hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. KHD Menjelaskan dasar pendidikan anak
berhubungan dengan kodrat alam dn kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “
sifat” dan “bentuk “ dimana lingkungan mereka berada, sedangkan kodrat zaman
berdasarkan “ isi dan irama “ ( Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21).
Masih menurut Kihajar Dewatara bahwa
dalam proses " menuntun ", anak diberi kebebasan namun pendidik
sebagai " pamong " dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak
kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang " pamong " dapat
memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.
Berdasarkan atas pemikiran - pemikiran
Ki Hajar Dewantara tersebut, maka pemerintah telah merevisi tujuan
pendidikan di Indonesia yaitu terwujudnya " Profil Pelajar Pancasila
", maksudnya adalah pelajar Indonesia yang memiliki nilai- nilai : Beriman
dan bertaqwa Kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Mandiri, Bernalar
Kritis, Kebhinekaan Global, Bergotong royong dan Kreatif.
Untuk mencapai hal terebut guru adalah perannya. diharapkan peran dan nilai guru penggerak sebagai garda terdepan dalam melakukan transformasi pendidikan. Adapun peran guru penggerak adalah :
1. Sebagai pemimpin pembelajaran,
2. Menggerakkan komunitas praktisi,
3. Menjadi coach bagi guru lain,
4. Mendorong kolaborasi antar guru,
5. Mewujudkan kepemimpinan murid.
Sedangkan nilai- nilai guru penggerak adalah :
1. Mandiri,
2. Reflektif,
3. Kolaboratif,
4. Inovatif,
5. Berpihak
pada murid..
Dengan bermodalkan peran dan nilai tersebut maka guru penggerak diharapkan mampu untuk membuat visi yang menggambarkan tentang usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu ' Profil Pelajar Pancasila'. Setelah visi dibuat, maka selanjutnya mengelaborasi visi tersebut dengan menggunakan model Inkuiri Apresiatif ( IA )
BAGJA dengan lengkah- langkah : 1. Buat pertanyaan utama, 2. Ambil
Pelajaran, 3. Gali mimpi, 4. Jabarkan rencana, 5. Atur eksekusi.
Untuk dapat terlaksanaya visi tersebut
dengan baik, maka sekolah memerlukan suasana yang kondusif, untuk itu
diperlukan tumbuhnya budaya positif di sekolah. Disamping menumbuh kembangkan
budaya positif yang selama ini telah ada seperti Salam, Sapa, dan Senyum,
dipandang perlu untuk merintis budaya positif yang lain yaitu "
Kesepakatan Kelas ", yaitu sebuah kesepakatan bersama antara guru dan
murid yang berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama
membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif.
Guru merupakan
teladan, pembangun kemauan dan pemberi dorongan kepada murid. Dalam
melaksanakan tugasnya, seorang guru tidak selayaknya memaksakan kehendak diri,
melainkan harus memahami setiap karakteristik anak masing-masing. Konsep
kedisplinan diri tidak bisa dipaksakan oleh seorang guru, melainkan
kedisiplinan merupakan keyakinan diri anak yang hanya bisa diubah ataupun
dilaksanakan atas kehendak anak itu sendiri.
Disiplin adalah bagaimana suatu
individu di dalam dirinya dapat melaksanakan keyakinan dirinya dalam tindakan
positif untuk mencapai kemerdekaan atau kebaikan dalam dunia pendidikan.
Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju
kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan
kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri,
dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu
pada nilai-nilai yang kita hargai. Seseorang yang memiliki disiplin diri
berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena
mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Guru merupakan
seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin, guru perlu memahami
kebutuhan setiap murid. Adapun 5 kebutuhan dasar murid yang perlu dipahami
seorang guru adalah kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan kesenangan, cinta dan
kasih sayang, kebebasan, dan penguasaan. Guru di kelas juga perlu memahami
keyakinan diri anak yang dituangkan dalam kesepakatan kelas. Dalam melaksanakan
kebijakan sekolah dan restitusi, guru harus mengetahui setiap peran kontrol
serta dapat menerapkan segitiga restitusi.
Ada 5 posisi kontrol yang diterapkan
seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi
kontrol tersebut adalah :
Penghukum,
Pembuat Orang Merasa Bersalah,
Teman,
Monitor (Pemantau),
Manajer.
a.
Penghukum
Seorang penghukum
bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan
posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau
alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. b. Pembuat Orang
Merasa Bersalah
Biasanya guru akan
bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan
keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah
diri.
c. Teman
Guru pada posisi
teman tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya
mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun
positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan
murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk
mempengaruhi seseorang. Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat
guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir
bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha,
Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru
tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru
tersebut.
d. Memonitor
memonitor berarti mengawasi. Pada
saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita
awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi.
Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi
kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Seorang
pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan
sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip
catatan, daftar cek. Posisi monitor sendiri berawal dari teori stimulus-respon,
yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid. e.Manager
Manager adalah posisi mentor di mana
guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid
mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi
atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memi liki keterampilan di
posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu
tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun
bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri
dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat
menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di
manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan
orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun
dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Keyakinan kelas
bertujuan untuk memberikan arah dan keselamatan anak dalam melakukan suatu
aktivitas. Nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati
bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun
agama. Suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau
memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat
untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian
peraturan.
Seluruh tindakan
manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik
kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang
kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari
satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival),
cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan
(fun), dan kekuasaan (power).
Restitusi adalah proses menciptakan
kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa
kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi
membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan
dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku
untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya
adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka
percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa
pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik. Dalam tahapan restitusi
dikenal dengan istilah segitiga restitusi yaitu adalah menstabilkan identitas,
validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.
Dengan menerapkan
budaya positif di sekolah seyogyanya dapat menndukung visi guru penggerak serta
visi sekolah untuk menciptakan pembelajaran yang merdeka. Sebuah paradigma
perubahan di dunia pendidikan memang harus dilaksanakan mulai dari diri-sendiri
dan menghimpun kekuatan dari luar untuk dijadikan pegangan dalam menjalankan
visi serta perubahan inkuiri Apresiatif sesuai tahapan BAGJA agar konsep
merdeka belajar sesuai nilai profil pelajar pancasila dapat dilaksanakan dengan
matang sempurna.
Refleksi dari budaya positif di
sekolah adalah bagaimana kita bisa menjadi seorang teladan bagi murid, memahami
kebutuhan setiap anak, memposisikan diri dengan benar sebagai seorang kontrol,
serta dapat menerapkan restitusi kepada anak yang membutuhkan.
Komentar