RESUME CPP HARI KE -5
Disusun oleh : Slamet Widodo,S.Pd
“ Pemahaman
tentang filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan
transformasi pendidikan Indonesia yang berpihak pada anak”
Pemikiran besar yang dicetuskan oleh Ki Hajar
Dewantara sangat Populer yaitu semboyan Ing ngarso sung tulodho (di depan
memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat,
kemauan), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) yang kini
menjadi insiprasi besar bagi kalangan guru dalam dunia Pendidikan. Ki Hajar
Dewantara memberikan pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. Menurut KHD,
Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada
pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau
hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat
memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Sistem Among sendiri terdiri dari dua konsep dasar yakni
kodrat alam dan kemerdekaan. artinya guru itu menjaga, membina dan menididk
anak kasih sayang, Peran menuntun sesuai sistem among terkandung makna
bahwa setiap anak didik memiliki potensi sesuai dengan garis kodratnya. Guru
harus memberi kesempatan seluas-luasnya dan dorongan kepada anak didik untuk
mengungkapkan perasaan, pikiran dan perbuatannya. pembinaan anak didik harus
berdasarkan atau kemauan sendiri, pemahaman dan usaha sendiri. Guru
mengupayakan atau memfasilitasi agar pembinaan mengarah kepada kemampuan anak
didik untuk mengolah hasil temuannya.
Murid adalah anak didik kita yang memiliki kodrat alam yang
selalu ingin merdeka sejak dari kandungan, Makna dari “merdeka” belajar
adalah merdeka atas diri sendiri. Minat dan bakat siswa itu
harus merdeka untuk berkembang seluas mungkin. Konsep itu yang dibawa Ki Hadjar
Dewantara bagi bangsa ini dengan harapan tak digerus perkembangan zaman.
Konteks pendidikan Merdeka Belajar itu adalah Merdeka Bermain. Karena bermain
adalah belajar, dengan bermain anak menjadi lebih senang, Dalam pembelajaran di
kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka
bermain. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar
siswa senang dan tidak mudah bosan. sehingga pembelajaran bisa diintegraskan
dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.
Pendidikan yang berpihak / menghamba pada anak proses
pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna. Karena peserta didik merasa
bahwa seluruh proses pembelajaran itu merupakan bagian dari diri mereka, sebab
segala proses pembelajaran melibatkan mereka dengan segala proses dan
tahapannya, Akan tetapi Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan
dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus
senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan
budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk
menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.
Pengetahuan tentang teori tabula rasa ini menjelaskan
fenomena anak-anak sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya
mengajar (mengisi kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu
penting, apalagi pendapat dan inisiatif anak. Ketika kita memandang anak
sebagai individu, itu akan membuat proses pendidikan yang kita lakukan berbeda
dibandingkan jika kita memandang anak sebagai kertas kosong. Dengan memandang
anak sebagai individu, kita lebih melibatkan anak dalam proses pendidikan untuk
dirinya sendiri; kita mendengarkan dan memperhatikan pendapat mereka serta
menjadikannya sebuah hal yang penting dalam proses pendidikan anak.
Pandangan Ki Hadjar Dewantara mengenai padi diibaratkan
olehnya seperti anak (murid) dalam melaksanakan pendidikan. Ibarat petani
sebagai guru yang menyebarkan benih atau bibit padi, tidak bisa memaksakan
tanaman padi menjadi tanaman lainnya. Hal tersebut juga dimaksudkan kepada
anak-anak yang sudah mempunyai minat dan bakatnya masing-masing, tidak bisa
dipaksa untuk menjadi apa yang diinginkan oleh guru atau orang tua untuk tujuan
tertentu.
Dalam proses pembelajarannya, ternyata tidak hanya
mengkonsentrasikan pada pelajaran (latihan) panca indra saja, tetapi permainan
anak juga dimasukkan pada pembelajaran di sekolah sebagai kultur. Kita tidak
dapat membandingkan metode Frobel, Montessori dan Taman Siswa tentang pengaruh
tenaga lahir pada batin seperti berikut: (a) Montessori mementingkan pelajaran
panca indra, hingga ujung jari pun dihidupkan rasanya, menghadirkan beberapa
alat untuk latihan panca indra dan semua itu bersifat pelajaran. Anak diberi
kemerdekaan dengan luas, tetapi permainan tidak dipentingkan, (b) Frobel juga
mendjaikan panca indra sebagai konsentrasi pembelajarannya, tetapi yang
diutamakan adlah permainan anakanak, kegembiraan anak, sehingga pelajaran panca
indra juga diwujudkan mengjadi barang-barang yang menyenangkan anak. Namun,
dalam proses pembelajarannya anak masih diperintah.
Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan
dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila, Pelajar
Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat
yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan
berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar
kritis, dan kreatif.
Profil Pelajar Pancasila yang di dalamnya berisi
karakter-karakter yang merujuk pada Pancasila, memberikan implikasi terhadap
ketahanan pribadi siswa, dimana Profil Pelajar Pancasila ini mengarahkan siswa
menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan Pancasila yang terangkum dalam
sebuah Profil Pelajar Pancasila.
Komentar